Umam menuturkan, kejadian bermula dari laporan pihak SMA Negeri 2 Kudus yang menginformasikan adanya sejumlah siswa mengalami diare.
"Saya ditelepon pihak PIC (Person in Charge) atau penanggung jawab MBG sekolah SMA 2 Kudus yang menyampaikan ada siswa yang diare," tuturnya.
"Ada yang ke UGD, dan ada juga yang tidak masuk sekolah," tambah Umam.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Umam bersama stafnya mendatangi sekolah untuk melakukan verifikasi.
Terkhusus terkait menu MBG yang saat itu dikonsumsi para siswa, yakni ayam suwir, kuah soto ayam, dengan tempe dan tauge.
"Kami langsung melakukan klarifikasi terkait menu (MBG)," terangnya.
"Pada kesempatan itu saya juga menyampaikan permohonan maaf dan kesiapan bertanggung jawab, termasuk membelikan obat bagi siswa yang diare dan mengganti biaya pengobatan bagi yang dirawat di IGD," imbuh Umam.
Sempat Gelar Audiensi dengan Guru-Siswa
Dalam kesempatan yang sama, Umam menjelaskan pihaknya telah menggelar audiensi dengan pihak sekolah, guru, perwakilan kelas, serta beberapa siswa selama hampir setengah jam.
Kendati demikian, setelah audiensi, jumlah siswa yang mengeluh sakit perut terus bertambah hingga petugas puskesmas dan ambulans datang ke sekolah.
"Awalnya hanya beberapa siswa, tapi kemudian semakin banyak yang berdatangan ke unit kesehatan sekolah (UKS)," terang Umam.
"Pihak puskesmas juga turun langsung ke sekolah," sambungnya.
Terkait penyebab pasti kejadian tersebut, Nasihul menegaskan pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG, sehingga belum dapat menarik kesimpulan.*