nasional

Malang Resmikan Landmark City of Media Arts, Perkuat Status Kota Kreatif Dunia

Jumat, 3 April 2026 | 01:36 WIB
Pemerintah Kota Malang meresmikan Landmark Malang City of Media Arts

SIBERKALIMANTAN.COM, MALANG - Pemerintah Kota Malang meresmikan Landmark Malang City of Media Arts, Rabu, sebagai penanda komitmen daerah itu dalam jejaring UNESCO Creative Cities Network (UCCN) di bidang media arts. Peresmian itu sekaligus menegaskan penguatan posisi Malang sebagai salah satu simpul ekonomi kreatif Indonesia berbasis kolaborasi lintas sektor.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi hexahelix yang melibatkan akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, media, dan aggregator. Menurut dia, gerakan Malang City of Media Arts tumbuh dari bawah melalui komunitas dan anak muda sebelum kemudian mendapat dukungan penuh dari pemerintah. “Pemerintah tidak selalu harus menjadi pemain utama. Tugas pemerintah adalah menjadi enabler, fasilitator, dan akselerator agar ekosistem kreatif dapat tumbuh dan memberikan dampak bagi masyarakat,” kata Wahyu.

Baca Juga: Setelah Kebakaran Besar di SPBE Bekasi, Damkar Ungkap Adanya Arus Pendek Listrik yang Diduga Jadi Penyebab Ledakan

Ia mengatakan pemerintah kota telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat ekonomi kreatif, antara lain penyusunan peraturan daerah tentang pengembangan ekonomi kreatif, penguatan Malang Creative Center sebagai pusat inkubasi, serta integrasi sektor kreatif dalam perencanaan pembangunan daerah. Dukungan juga akan diperkuat melalui program fasilitasi, inkubasi, dan promosi bagi subsektor film, animasi, gim, musik, desain, dan media art.

Koordinator Malang Creative Fusion (MCF), Dadik Wahyu Chang, mengatakan pengakuan UNESCO merupakan hasil perjalanan panjang yang dibangun secara konsisten dan kolaboratif. Menurut dia, kekuatan utama Malang terletak pada jejaring kolaborasi yang terbuka dan inklusif, sehingga status kota kreatif harus dijaga lewat kerja nyata. “Penetapan ini bukan hadiah, tetapi buah dari kerja kolektif yang panjang. Ini adalah validasi dunia bahwa ekosistem kreatif Malang telah berada pada standar global,” kata Dadik.

Ketua Tim Dossier UNESCO Malang City of Media Arts, Vicky Arief H, menilai capaian tersebut bukan sekadar peristiwa seremonial. Ia mengatakan status UNESCO harus dimaknai sebagai sarana untuk mendorong transformasi kota, mulai dari diplomasi budaya hingga pengembangan ekonomi kreatif dan talenta. “Pertanyaan ke depan bukan lagi bagaimana mendapatkan UNESCO, tetapi bagaimana status ini berdampak pada masyarakat,” ujar Vicky.

Baca Juga: 10 Korban Berhasil Dievakuasi usai Insiden Ledakan Dahsyat di SPBE Bekasi Timur, Ini Kronologinya

Sementara itu, Tim Focal Point UNESCO Malang City of Media Arts, Amar, mengatakan tantangan berikutnya ialah menghubungkan kekuatan lokal dengan rantai nilai ekonomi kreatif global. Menurut dia, subsektor seperti film, animasi, game, immersive media, hingga konten berbasis AI kini menuntut standar internasional dari sisi talenta, teknologi, dan tata kelola. “Dengan kolaborasi internasional yang nyata dan transformasi menuju standar global, Malang tidak hanya akan dikenal sebagai Kota Kreatif Dunia, tetapi juga berpotensi menjadi pusat rujukan media arts di Asia Tenggara,” kata Amar.

Karena itu, ia mendorong penguatan kolaborasi internasional melalui program pertukaran, residensi, dan co-production lintas negara, sekaligus membuka akses pasar global bagi produk kreatif lokal. Status UNESCO, kata dia, harus diisi dengan karya yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Ketua Umum Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Tb. Fiki C. Satari, turut mengapresiasi peresmian landmark tersebut. Ia menilai momentum itu sebagai penanda lahirnya ekosistem masa depan yang sarat energi kolaborasi. “Momentum ini merupakan kelahiran ekosistem masa depan yang sarat energi kolaborasi dan berpotensi menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia,” ujar Fiki.

Peresmian Landmark Malang City of Media Arts menegaskan bahwa status kota kreatif tidak berhenti pada simbol, tetapi diarahkan untuk mendorong dampak ekonomi, sosial, dan budaya bagi masyarakat.

Tags

Terkini