SIBERKALIMANTAN.COM, KUBU RAYA - Matahari di atas langit Kalimantan tidak lagi berwarna kuning, melainkan oranye pucat yang terhalang jerebu. Di bawahnya, sebuah ekosistem sedang meregang nyawa. Suara ranting yang patah bukan karena injakan kaki, melainkan karena dilahap lidah api yang menari liar.
Di garis depan, tampak sosok-sosok dengan seragam yang tak lagi jelas warnanya, tertutup jelaga dan abu. Mereka adalah Tim Siaga Karhutla. Gabungan dari TNI-Polri yang tegap, personil BNPB dan Manggala Agni yang tak kenal lelah, hingga relawan pemadam swasta yang bergerak atas panggilan nurani.
Luka yang Tak Terucap
Visualisasikan, seorang petugas dari tim siaga karhutla. Tangannya gemetar saat menyambung pipa alkon. Di balik sarung tangan kainnya yang tipis, ada suban yang menusuk masuk hingga ke daging, namun ia tak sempat mengaduh. Di bawah kakinya, sepatu bot karetnya mulai melunak karena panasnya tanah gambut yang menyimpan bara sedalam dua meter.
"Api di atas bisa kami lihat, tapi api di dalam tanah? Itu yang mengincar nyawa kami," bisiknya sambil mengusap peluh yang bercampur abu hitam.
Kaki yang melepuh adalah "lencana" harian mereka. Namun, rasa sakit itu kalah oleh bayangan wajah di rumah. Ada istri yang menatap pintu setiap malam, ada anak-anak yang hanya bisa mencium bau asap dari seragam ayahnya saat pulang. Mereka tahu, setiap langkah maju ke arah titik api adalah pertaruhan nyawa demi memadamkan api yang mungkin bermula dari satu puntung rokok atau satu korek api yang ceroboh.
Benteng Terakhir Jantung Kehidupan
Mengapa mereka rela melakukan ini? Jawabannya ada di pemukiman yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari lidah api.
Di sana, di balik jendela-jendela kayu yang tertutup rapat, ada para lansia yang berjuang setiap kali menarik napas. Ada anak-anak kecil yang dadanya kembang kempis, terancam oleh monster bernama ISPA. Udara yang seharusnya menjadi hak dasar untuk hidup, berubah menjadi racun mematikan karena keserakahan atau kelalaian manusia.
Tim Siaga Karhutla ini bukan hanya memadamkan api, mereka sedang menjaga detak jantung masyarakat. Mereka adalah filter manusia yang mencegah paru-paru generasi masa depan menghitam oleh asap.
Seruan di Balik Jerebu
Kita sering menyebut mereka pahlawan, tapi pahlawan pun bisa lelah. Mereka tidak butuh tepuk tangan saat api padam, mereka butuh tangan kita untuk berhenti menyulut api.
Hutan Kalimantan bukan sekadar lahan kosong yang bisa dibersihkan dengan cara instan. Ia adalah warisan. Setiap jengkal tanah yang terbakar oleh tangan tak bertanggung jawab adalah luka permanen bagi bumi.
Pesan untuk Kita
Saat Anda menghirup udara segar esok pagi, ingatlah ada seseorang di tengah hutan Kalimantan yang saat ini sedang sesak napas, berlumur lumpur, dan bertaruh nyawa agar asap itu tidak sampai ke paru-paru Anda.
Artikel Terkait
Berharap Tak Ada Dipermasalahkan di Kemudian Hari, Oknum Polisi-TNI Mengaku Tak Ada Niat Lukai Hati sang Pedagang Es Jadul
Sinergitas Polri dan Masyarakat Diperkuat Lewat Tatap Muka dan Ngopi Bareng PMP Kubu Raya Bersama BINMAS Polda Kalbar
Tatap Muka Sinergitas Polri dan Masyarakat 2026, Ormas Silat Tradisi Sendeng Pukol Tujoh Kubu Raya Apresiasi Ruang Dialog Bersama Polda Kalbar
Atlet ASEAN Para Games Asal Kalbar Kembali ke Daerah, Disambut Hangat Disporapar dan NPC
Remaja Mujahidin Kalbar Gelar Program “Remaja Mujahidin Go to School”, Jangkau 20 Sekolah di Pontianak
Kebakaran Lahan 5 Hektare di Sungai Ambawang, Polisi Lakukan Olah TKP
Influencer Aisar Khaled Ceritakan Kakek Penjual Es Gabus Viral Ini Sempat Mimpi Pergi Umrah, Kini Terkabul usai Lalui Ujian Sulit
Pilu Reza Arap Atas Kepergian Lula Lahfah, Ungkap Rencana Masa Depan yang Kini Tinggal Kenangan
Nilai MBG Lebih Mendesak daripada Lapangan Kerja, Kepala Bappenas Ceritakan Warga di Pelosok Desa yang Kelaparan
Tragis! Karyawan Peternakan Ayam di Kubu Raya Tewas Tersengat Listrik Saat Cas HP