Tangis Pecah Ayah di Aceh Tamiang: Sebut Kebun Musnah Akibat Banjir, Bingung Pikirkan Biaya Sekolah Anak

photo author
Junarti Sari Kalsum, Siber Kalimantan
- Kamis, 18 Desember 2025 | 21:37 WIB
Tangkapan layar seorang warga di Aceh Tamiang yang berharap mendapat bantuan karena terdampak banjir. (TikTok/13u_d4hl4n)
Tangkapan layar seorang warga di Aceh Tamiang yang berharap mendapat bantuan karena terdampak banjir. (TikTok/13u_d4hl4n)

SIBERKALIMANTAN.COM, - Kesedihan mendalam menyelimuti warga Desa Juara, Kecamatan Sekarak, Aceh Tamiang.

Di tengah puing-puing sisa banjir, seorang pria tak kuasa menahan tangis saat menceritakan nasib keluarganya yang kehilangan segalanya akibat terjangan air bah yang menghancurkan mata pencaharian mereka.

Momen memilukan ini terekam dalam sebuah video yang diunggah oleh akun TikTok @13u_d4hl4n pada Selasa, 16 Desember 2025.

Video tersebut memperlihatkan potret nyata kehancuran ekonomi yang dialami warga di pelosok Aceh Tamiang.

Sambil menangis tersedu di hadapan kamera, pria tersebut mencoba tegar menerima kenyataan bahwa kebun yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya telah rata dengan tanah.

"Mau bilang apa, Tuhan berkata begini, kami terima, kebun saya juga habis enggak ada lagi," ucap pria tersebut dengan suara bergetar.

Kehilangan kebun bukan hanya soal hilangnya harta, melainkan juga hilangnya harapan untuk masa depan pendidikan anak-anaknya.

Dengan nada penuh kecemasan, ia mengaku bingung bagaimana harus melunasi biaya pendidikan sang buah hati di tengah kondisi yang serba sulit ini.

"Untuk ke depannya untuk bayar sekolah anak saya sudah tak sanggup lagi," imbuhnya.

Tanpa penghasilan dan simpanan yang tersisa, ia kini hanya bisa menggantungkan harapan pada uluran tangan para dermawan dan relawan yang datang ke desanya.

Ia pun memohon bantuan dengan sangat agar keluarganya bisa bertahan hidup.

"Kami mohon para relawan, bantu kami," kata pria itu dengan penuh harap.

Meski kehilangan banyak hal, permintaannya sangatlah sederhana. Baginya, bisa mendapatkan asupan makanan untuk hari ini saja sudah merupakan sebuah anugerah yang sangat disyukuri.

"Kami tidak mengharapkan lebih, kami bisa dapat makan, Alhamdulillah," pungkasnya.

Kisah dari Desa Juara ini menjadi pengingat bahwa di balik surutnya air banjir, terdapat luka ekonomi dan beban mental yang berat bagi para orang tua yang kini harus berjuang dari nol demi kelangsungan hidup dan pendidikan anak-anak mereka.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Junarti Sari Kalsum

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X