KTT G20 Dibali, Indonesia Siapkan Batik dan Kain Tenun Sebagai Suvenir

photo author
M. Khairil Ansyari, Siber Kalimantan
- Selasa, 15 November 2022 | 23:06 WIB
G20 Indonesia 2022 (Indonesia.go.id)
G20 Indonesia 2022 (Indonesia.go.id)

SiberKalimantan.com  Sejumlah kepala negara dan kepala pemerintahan berkumpul di Bali, Indonesia, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Indonesia yang menjadi Presidensi G20 menggelar hajatan itu sepanjang tahun, dan mencapai puncaknya di KTT G20 yang berlangsung 10-17 November 2022.

Ada sisi yang menarik dalam perhelatan KTT G20 Indonesia kali ini. Untuk menyambut para Pemimpin Negara G20 dan delegasi yang hadir dalam pertemuan tingkat tinggi ini.

Dikutip dari Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) RI, Indonesia sebagai tuan rumah telah menyiapkan sejumlah cendera mata khas Indonesia, salah satunya busana dari kain atau wastra Indonesia yang nantinya akan dikenakan oleh para ketua delegasi selama KTT G20 berlangsung.

Cendera mata yang dibagikan tersebut telah disiapkan oleh Kemensetneg RI yang bertanggung jawab atas infrasturuktur dan logistik perhelatan KTT G20 di Bali.

Berbagai cendera mata telah disiapkan, salah satunya adalah Wastra Indonesia yang merupakan kebanggaan Indonesia berupa kain tradisional Indonesia yang telah terkenal karena sarat dengan makna dan filosofinya, baik dari simbol pada motif atau corak, dimensi warna, ukuran, maupun bahannya.

Di gelaran KTT G20 Bali, ada dua jenis kain tradisional yang menjadi pilihan cinderamata, yakni Batik Tiga Negeri Pekalongan dan Kain Tenun Ikat Catri Klungkung Bali.

Kain Tenun Ikat Catri Klungkung Bali
Kain Tenun Ikat Catri Klungkung Bali (Kemensetneg RI)

Batik Tiga Negeri adalah batik yang tergolong batik pesisir. Batik ini memiliki ciri khas dengan warna cerah yang mencerminkan keceriaan dan kegembiraan. Batik ini disebut sebagai batik mahakarya pembatik peranakan Cina di wilayah pesisir utara Jawa dan Solo.

Dibandingkan dengan kain batik lainnya, pewarnaannya menjadi ciri khas tersendiri. Jenis batik ini mengalami proses pewarnaan yang dilakukan secara berpindah-pindah di tiga daerah.

Warna merah (khas Tionghoa) dari buah Mengkudu dicelup di Lasem, warna biru (khas Belanda) dari tanaman Indigo diwarnai di Pekalongan, dan warna cokelat sogan (khas Jawa) dari tanaman Soga dikerjakan di Solo/Yogyakarta. Tradisi batik ini telah berlangsung sejak lama dan tumbuh dan berkembang dari daerah Kedungwuni, Pekalongan.

Kain Tenun Ikat Catri Klungkung Bali
Kain Tenun Ikat Catri Klungkung Bali (Kemensetneg RI)

Selain dari warna-warni kain batiknya, simbol hasil akulturasi budaya asing dan budaya nusantara juga tercermin dari motif-motif yang terukir di Batik Tiga Negeri. Pesona Batik Tiga Negeri menonjol karena kompleksitas motifnya atau coraknya.

Batik ini mampu menggabungkan motif batik pedalaman (Solo dan Yogyakarta) dengan motif pesisiran (Pekalongan dan Cirebon) serta motif Peranakan Tionghoa dan motif Belanda. Ini tercermin dari ragam coraknya, seperti bunga Peony, bunga Sakura, kupu-kupu, burung Hong, dan flora dan fauna lainnya yang juga dipadupadankan dengan pakem motif batik Jawa Tengah.

Jenis batik asli Pekalongan yang menjadi suvenir KTT G20 yaitu kain batik Liem Ping Wie (lpw) yang mempunyai ciri khas pada tiap detail motif dan pewarnaannya. Kain batik lpw dibuat secara turun menurun dengan sentuhan etnik yang mendalam dan dipadukan dengan warna cerah sehingga memiliki ciri khas yang unik. Batik lpw memproduksi batik tulis halus hingga batik cap coletan, membuat batik ini layak untuk menjadi salah satu koleksi para pecinta batik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M. Khairil Ansyari

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X