SIBERKALIMANTAN.COM -- Bagi pengguna smartphone, pasti sudah tidak asing lagi dengan aplikasi pesan bernama WhatsApp, atau biasa disingkat dengan WA.
Aplikasi ini sangat populer digunakan untuk bertukar pesan, bahkan satu orang bisa memiliki lebih dari satu akun WA
Tak bisa dipungkiri, aplikasi WA memang sangat membantu banyak orang untuk berkomunikasi dan saling terhubung.
Tak hanya itu saja, keefektifan aplikasi dengan berbagai fitur di dalamnya, banyak dimanfaatkan oleh perusahaan untuk membantu operasional.
Salah satu fitur populernya yaitu untuk panggilan suara atau video, penyimpanan dokumen dan menyebarkan informasi.
Jadi wajar bila siapapun memilih menggunakan WA sebagai pilihan utama komunikasi jarak jauhnya di masa kini.
Tetapi, sebuah laporan yang dikutip Gadgetsnow, Minggu 27 November 2022, baru-baru ini mengklaim, jika database yang berisi nomor telepon setidaknya berjumlah 500 juta pengguma WhatsApp, telah dijual di forum komunitas peretasan atau hacker oleh oknum yang tak bertanggung jawab.
Apakah Indonesia termasuk?
Menurut sebuah laporan Cybernews, penjual mengklaim bahwa database itu berisi 487 juta nomor telepon milik pengguna aktif WhatsApp di 84 negara berbeda.
Informasi lebih lanjut, laporan menyebut jika 1/4 database pengguna WhatsApp di seluruh dunia berisiko dihack.
Informasi itu disebarkan lewat sebuah poster yang dibagikan oleh penjual database itu.
Tersemat pada poster bahwa ada nomor telepon pengguna di sejumlah negara. Apakah Indonesia termasuk?
Diketahui bila negara-negara tersebut ialah Amerika Serikat (32 juta pengguna), Inggris (11 juta pengguna), Rusia (10 juta pengguna), Italia (35 juta pengguna), Arab Saudi (29 juta pengguna) dan India (lebih dari 6 juta pengguna).
Seluruh pengguna tersebut berisiko mengalami kebocoran data.
Mengenai seperti apa hacker mendapatkan data itu, laporan tersebut tidak memberikan penjelasan soal hal tersebut.