Sejak akhir November 2025, sejumlah wilayah di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh mengalami bencana banjir, banjir bandang, serta longsor berskala besar.
Ribuan warga terdampak, ratusan rumah rusak, akses jalan terputus, sebagian wilayah terisolasi hingga ratusan orang dinyatakan meninggal.
Otoritas pusat maupun daerah masih berupaya melakukan evakuasi, pendataan, serta distribusi logistik.
Dalam beberapa hari terakhir, beberapa lembaga pemerintah seperti Basarnas dan BNPB telah mengerahkan personel dan peralatan untuk mempercepat operasi penyelamatan.
Namun sejumlah pihak menilai bencana kali ini menunjukkan adanya persoalan tata kelola hulu seperti kerusakan kawasan resapan, aktivitas pertambangan, serta konversi hutan yang tak sejalan dengan kapasitas ekologi wilayah.*
Artikel Terkait
Soal Pembenahan Internal Maskapai Nasional, DPR Minta Garuda Dibersihkan dengan ‘Tangan Besi’
Dosen FH UM Pontianak Terima Penghargaan PUG dari Gubernur Kalbar pada Peringatan Hari Ibu ke-97
Diseminasi Inovasi Kubu Raya: dr. Asep Ahmad Saefullah dan Ibu Sutrisna Terima Sertipikat HAKKI untuk Inovasi “TEKURAS”
Bencana di Sumatera Utara Sudah Seminggu Berlalu, Prabowo Akhirnya Tinjau Lokasi Terdampak Banjir-Longsor
Pasca Bencana Melanda Medan, Viral Video Seekor Anjing Merintih di Tengah Banjir hingga Menarik Simpati Warganet
DPR Desak Garuda Benahi Sistem hingga Tuntut Jaminan PMN Rp23,67 Triliun Jadi yang Terakhir
Mendagri Tito Karnavian Anggap Wajar Para Bupati yang Ngaku Tak Sanggup Tangani Bencana Banjir-Longsor di Sumatera
Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah di Kubu Raya: Pelantikan PCM dan Pemberian Award
FH UM Pontianak Gelar Seminar MK, Hadirkan Hakim Mahkamah Konstitusi Ridwan Mansyur
Evaluasi Pengelolaan Hutan Mencuat usai Rentetan Bencana di Sumatera, DPR Jadwalkan Rapat Khusus dengan Kementerian Kehutanan