Gus Miftah soal MBG: Salahnya yang Diperbaiki, Bukan Programnya Dihentikan

photo author
Junarti Sari Kalsum, Siber Kalimantan
- Sabtu, 7 Maret 2026 | 11:12 WIB
Gus Miftah tegaskan MBG adalah program yang baik tapi pengelolaannya di lapangan butuh perbaikan. (Dok. Pemkab Cirebon)
Gus Miftah tegaskan MBG adalah program yang baik tapi pengelolaannya di lapangan butuh perbaikan. (Dok. Pemkab Cirebon)

SIBERKALIMANTAN.COM,Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo yang sudah berjalan sejak 6 Januari 2025.

Lebih dari setahun pelaksanaan, MBG selalu menjadi sorotan karena beberapa masalah yang terjadi dalam pelaksanaannya di lapangan.

Beberapa masalah yang beberapa waktu terakhir muncul adalah menu makanan yang kurang layak ketika dibagikan hingga sorotan harga, dianggap tak sesuai dengan aturan per porsi dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Menanggapi sejumlah masalah tersebut, Miftah Maulana atau yang dikenal dengan Gus Miftah mengungkapkan bahwa MBG bukan program yang salah, tapi pengelolanya.

Baca Juga: Dituding Gelapkan Dana 1,1 Miliar, Ketua Bawaslu Pontianak Buka Suara: Itu Sesuai RAB

Gus Miftah: MBG Program yang Baik

Gus Miftah menegaskan bahwa MBG tidak seharusnya disebut sebagai proyek, melainkan program.

“MBG itu program, bukan proyek. Menurut orang Cirebon, MBG itu baik apa enggak? Baik. Tapi cara pengelolaannya kurang baik,” ucap Gus Miftah saat menghadiri Safari Ramadan di Lapangan Mandala Giri, Cirebon pada Sabtu, 28 Februari 2026.

“Kalau caranya yang salah, yang salah bukan presidennya, tapi yang mengelola dapurnya,” lanjutnya.

Perbaiki Masalah MBG, Bukan Hentikan Program

Gus Miftah lantas kembali menegaskan bahwa MBG adalah program yang bagus, tapi pelaksanaanya masih salah.

Baca Juga: Atasi Kawasan Kumuh, Gubernur Kalbar Dampingi Menteri PKP Tinjau Bedah Rumah di Desa Parit Baru

“Kalau programnya Pak Presiden, MBG bagus apa nggak? Bagus, tapi yang menjalankan kurang bagus. Berarti jangan salahkan presidennya,” ujarnya di acara yang juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi itu.

Ia lantas mengibaratkan pada sebuah rumah yang memiliki kerusakan pada pintu, jalan keluarnya adalah memperbaiki pintu tersebut, bukan merobohkan rumah.

“Kalau rumah pintunya rusak, yang perlu dibenerin pintunya apa rumahnya dirobohkan? Pintunya yang dibenerin, bukan rumahnya yang dirobohkan,” tutur Gus Miftah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Junarti Sari Kalsum

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X